tentang “Tsaqofatuna” :
Tsaqofatuna’s Blog adalah catatan-catatan kecil yang Alfaqir tulis seiring dengan aktivitas Al-faqir sebagai seseorang yang diberi amanah untuk memberikan ”pengajian-pengajian” di sekitar lingkungan Al-faqir seperti pengajian tafsir jalalain ahad sampai kamis di langgar winongan kauman, pengajian jumat pagi di langgar njenengan Honggowongo , pengajian marhamah sabtu pagi di gading serta pengajian-pengajian umum lainnya.
Semula Alfaqir ingin menulis setiap materi pengajian yang Alfaqir sampaikan namun dalam perjalanan dua bulan blog ini (bulan dzulhijjah 1430 H dan awwal muharrom 1431 H), Alfaqir merasa sangat berat untuk melanjutkannya sehingga Alfaqir hanya bisa menulis ayat 25 sd 30 dari surat Hud.
Oleh karena itu, Alfaqir memutuskan untuk menulis tema-tema tertentu saja dari pengajian yang Alfaqir sampaikan.
Si Faqir pemilik ”Tsaqofatuna”.
Nama dari alfaqir adalah Ahmad Fadholi yang terlahir dari pasangan seorang ibu yang bernama Iffah dan seorang ayah yang bernama Muhyiddin pada tanggal 5 Maret 1972.
Pendidikan Formal
Pendidikan formal dasar dan menengah Alfaqir tempuh di kota kelahiran Alfaqir di Kecamatan Lasem kabupaten Rembang ; tepatnya di SD Soditan 1 Lasem, SMP N 1 Lasem dan SMA N 1 Rembang.
Setelah menyelesaikan bangku SMA, Alfaqir meneruskan pendidikannya di kota Solo tepatnya di Universitas Sebelas Maret Fakultas Pertanian.
Warna Keagamaan
Mengikuti Urf atau kebiasaan ”keluarga muslim (baca : kaum santri) ” di kota kelahiran Alfaqir maka Alfaqir pun menempuh tahapan tafaqquh fiddin seperti layaknya keluarga muslim yang lain dimana tahapan tersebut dimulai dengan belajar membaca Alquran di beberapa langgar.
Alfaqir belajar membaca Alqur’an dibawah bimbingan almarhum Kiyahi Asror dan Ustadz Khozin. Selain belajar membaca Alqur’an di beberapa langgar, kedua orang tua Alfaqir memasukkan Alfaqir di madrasah sore tepatnya di Madrasah Annashriyyah dan MTs Maahid untuk menempuh tafaqquh fiddin lebih lanjut guna mempelajari nahwu, shorf, tafsir, hadits, fiqh, akhlaq dan yang lain.
Kedua orang tua Alfaqir juga mendatangkan guru khusus yaitu ustadz Mu’thi untuk membimbing Alfaqir berlatih menelaah beberapa teks book dalam bahasa arab khususnya pendalaman kaedah bahasa arab syarh ibn Aqil dan fiqh Syafii.
Alfaqir juga dihasung oleh kedua orang tuannya untuk menghadiri beberapa majlis ilmu non madrasah yaitu di majlis tafsir jalalain KH Manshur Kholil di Ponpes Annur, majlis Al-adzkar Annawawi di Ponpes Alwahdah KH Hamid Baidlowi dan menghadiri short corse bulan Ramadhan untuk mendapatkan materi ushul fiqh dan Tasawwuf di Ponpes Attaslim yang diasuh oleh KH Dimyathi serta Ulumul Qur’an, Sohih Bukhori dan Shohih Muslim di ponpes Annur yang diasuh oleh KH Manshur dan putranya gus Qoyyum.
Ketika Alfaqir meninggalkan kota kelahirannya untuk kuliah di Solo maka ada warna keagamaan lain dalam kehidupan Al-faqir dimana Alfaqir aktif di SKI (bidang kajian) Fak Pertanian UNS dan berinteraksi dengan beberapa aktivis dari berbagai kelompok pengajian yang tumbuh subur di Solo pada saat itu.
Di kota Solo inilah Alfaqir mengikuti beberapa putaran halaqoh dan pengajian mulai dari halaqoh tarbiyah dengan murobby Ustadz Wahid Ahmadi. Alfaqir juga pernah aktif mengikuti khuruj beberapa kali bersama Jamaah Tabligh. Alfaqir juga beberapa bulan pernah menghadiri pengajian pagi di Masjid Al-abror Mangkubumen (gumuk) yang biasa diiso oleh Ustadz Mulyono dan Ustadz Kholid Hasan dan beberapa aktivitas pengajian Gumuk yang lain seperti pengajian di Masjid Grobagan yang diasuh oleh Ustadz Azhuri, kursus Bukhori beberapa kali dengan Ustadz Rohmat Syukur. Tak lupa Alfaqir juga sering menghadiri pengajian yang diselenggarakan anak-anak kost an yang terkadang mengundang Pak Solihan serta Hasan Basri dari Ngruki.
Di kota Solo pula Alfaqir belajar bahasa Arab lesan dengan Ustadz Ali Bazmul dan di Ma’had Lughoh.
Guru Guru Alfaqir.
Semua orang yang Alfaqir pernah mendapatkan ilmu adalah guru Alfaqir seperti ungkapan Mbah Mashum Lasem ayahanda KH Ali Ma’shum Krapyak ((Kuntu Abdan Liman Allamani Walau Harfan)) yang berarti saya adalah abdi dari siapapun yang pernah mengajariku ilmu walau satu huruf.
Bersama HTI Soloraya.
Satu ungkapan untuk HTI Soloraya : Ana Min Syababihim…saya bagian dari aktivisnya.
Menjadi Ustadz di Jamsaren dan Mudir NDM.
Salah satu hal yang paling Alfaqir syukuri dalam perjalanan hidup Alfaqir adalah Alfaqir menjadi bagian keluarga almarhum HM Bilal, kiyahi generasi kedua Al-islam setelah KH Ghozali karena Alfaqir menikah dengan salah satu cucu KH Bilal, Kafiyah Nikmah.
Hubungan inilah yang mengantarkan Alfaqir berkesempatan untuk berkhidmat di Pondok Pesantren NDM dan Jamsaren.
Demikianlah jatidiri Tsaqofatuna dan Shohibnya agar tidak selamanya menjadi maya sehingga jelas pertanggungan jawabnya. Di dalam tradisi ilmu Hadits seseorang yang tidak jelas jati dirinya dikenal dengan majhul dan mastur dimana para muhadditsin tidak menerima kondisi yang seperti itu.
Alfaqir juga meniru niru Assuyuthi yang menulis biografinya Husnul Muhadloroh.
Surakarta, 15 Muharrom 1431H
Assalamualaikum WR. WBr.
Terima kasih juga anda telah berkunjung ke blogsite saya yang sederhana. terima kasih.
Wa’alaikumussalam.
Syukron pak Syaiful
minal mahdi ila al-lahdi
Assalamu’alaikum,
Blognya baru ya? Tulisannya bagus-bagus. Kajian tentang Nabi Ibrahim, Qurban dan Idul Adha sangat bagus dan lengkap.
Terima kasih. Semoga sukses.
Wassalam
Wa’alaikumussalam.
Iya pak …
latihan nulis …..
selama ini kalau diminta ngisi pengajian di kampung kadang-kadang ada yang minta tulisannya ….
ternyata di luar sana banyak orang pandai di bidangnya masing-masing … sehingga bisa belajar banyak ….
termasuk kepada pak Abdul Aziz.
Wassalamu Alaikum.
Assalaamu’alaikum Ahmad Fadholi
Apa khabar ? Didoakan sihat dan dalam rahmat Allah swt selalu. Sekian lamanya, blog Ahmad masih sepi dengan tulisan bermanfaat yang baru. Harap adanya perkongsian ilmu pada masa terdekat ini.
Terima kasih sudah mampir ke laman saya. Mudahan segala perjalanan kehidupan dimudahkan Allah dan dimurahkan rezeki di dunia dan akhirat.
Salam mesra dari saya di Sarawak, Malaysia.
[...] biasa disebut Mbah Yahdu. Kini, yang melanjutkan kajian tafsir Jalalain di Langgar Winongan adalah Ustadz Fadholi, menantu Dr. Amin Romas, atau cucu menantu dari Kyai Haji Bilal. Langgar Winongan – Prasasti [...]