Ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada Alfaqir oleh salah seorang ustadzah baru yang mengajar di NDM, penanya memulai dengan pembukaan Inna Allaha laa yastahyi min al haq, kemudian bertanya seperti judul di atas.
Jawaban.
Ruthubah secara bahasa berasal dari kata rothuba yang berarti basah lawan dari kering. Sedangkan ma’na istilahnya tidak keluar dari ma’na bahasanya, hanya saja hanabilah membedakan antara ruthubah dan balal. Sedangkan kata Al-farji secara bahasa berarti yang terbuka, bisa digunakan untuk menyebut qubul atau dubur akan tetapi secara urf farji hanya sebatas pada qubul ( almisbahu almunir, kasyf alqina’).
Secara ringkas mausuah fiqhiyyah kuwaitiyyah memberikan ta’rif ruthubatu farjil mar’ah dengan ungkapan :
مَاءٌ أَبْيَضُ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْعِرْقِ يَخْرُجُ مِنْ فَرْجِ الْمَرْأَةِ
Yang berarti cairan putih yang keluar dari kemaluan wanita yang dia bukan madzyi dan bukan pula irq.
Secara sederhana bisa dilakukan pendekatan bahwa ruthubatu farjil mar’ah adalah segala yang ada pada kemaluan wanita diluar sesuatu yang sudah ma’ruf, bukan madzi, bukan peluh, bukan darah dst.
Pendekatan tersebut nampak sekali ketika fuqoha membahas status hokum dari kenajisan atau kesucian dari cairan ketuban dan nampak pada ma’na istilahnya sebagaimana di atas.
Dan, apapun istilah kontemporer dari segala cairan yang keluar dari farji wanita maka mihwar pembahasannya terletak kepada status kesucian dan kenajisannya dan mungkin pula terletak kepada apakah membatalkan wudhu atau tidak?. Dan apabila kita perhatikan batasan kenajisan yang dikemukakan oleh para ulama madzhab maka apapun istilah kontemporer dari berbagai macam ruthubatu farjil mar’ah hanyalah masalah klasifikasi atau obyek dari hokum (manath hukm)
Status kesucian atau kenajisan dari ruthubathu farjil mar’ah.
Para ulama, sebagaimana dituliskan di mausu’ah fiqhiyyah kuwaitiyyah, berbeda pendapat mengenai status kesucian dari ruthubatu farji al_mar’ah. Jumhur ulama berpendapat najisnya ruthubatu farji almar’ah apabila bersumber dari dalam maka hukumnya adalah najis sedangkan jika bersumber dari luar farji maka hukumnya adalah suci. Adapun hanabilah dan abu hanifah berpendapa sucinya ruthubatu farjil mar’ah secara muthlaq.
Meskipun ada klasifikasi dari ruthubatu farjil mar’ah yang dinilai suci oleh sebagian ulama namun mereka berpendapat tentang keharusan di bersihkannya, hal ini tentu sesusai dengan ruh kebersihan di dalam Islam.
Wallahu A’lam.
kalau keputihan masuk katagori RFM tsb bukan?.
Cetul, keputihan masuk katagori RFM.